INSPIRASI

Untuk Sebuah Nama (Catatan Hati Untuk Seorang Sahabat)

images

photo Ramadhan Laode

Senja di Pulau Putri menyiratkan sebuah pesan romantisme tentang kita. Saat itu aku duduk dalam diam ditemani secangkir capucino yang lezat buatanmu bersama sebungkus Rokok Djarum kesukaanku.. Kamu pasti tahu betapa capuccino dan Rokok Djarum adalah rutinitas keseharianku di saat suka pun kejenuhan menghampir. Saat aku berdiam diri dalam ruang kesedihan, capuccino dan Djarum  menjadi sahabat sejati. Itulah sebabnya aku tidak akan berniat meninggalkannya, walaupun kamu pernah mengingatkanku utk berhenti menghirupnya atau sekedar menciumnya.

Untuk sebuah nama….Aku teringat akan perjumpaan kita beberapa bulan silam. Saat yang kuduga sebagai fase perubahan kedirianku. Kita bertemu dalam suasana keniscayaan, dimana sesuatu yang mungkin tak terduga menjadi mungkin diduga. Kenyataan itu selalu aku harapkan untuk terjadi, walaupun butuh proses tidak begitu lama, dalam rentang waktu yang singkat. Menjumpaimu adalah sebuah moment yang selalu abadi untuk di kenang. Ya, saat itu kamu menunjukan diri dalam kesederhanaan dan tutur kata yang apa adanya. Kamu membangkitkan gairah kebersamaan yang hampir jarang terjadi ditengah keheningan kota ini.

Mengingatmu dalam perjumpaan pertama membawaku menyelami kedalaman sebait puisi yang pernah terlintas dalam imajiku, sebait puisi yang pernah menghentak naluri kemanusiaanku untuk bermimpi tentangmu;

“You and all of memories of you

Back into my life

When I want to forget you

And all of you”

Salahkah bila aku mengenangmu dan mengingatmu?? Itulah pertanyaanku ditengah kegelisahan di senja kota Pahlawan ini. Kubiarkan pertanyaan ini bergelayut dalam pikiranku, sebab kutahu senja ini melecutku dalam ruang kegalauan. Aku hanya ingin berandai, seandainya senja menautkan hati kita pasti kegalauan ini tak akan pernah terjadi, dan kesendirianku di kota Pahlawan ini tak akan pernah terekam didinding tua tak bergaris. Seandainya senja membentangkan jurang keterpisahan yang membuatku lupa akan engkau, maka terjadilah seperti yang Chairil Anwar katakan “

“ Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Diantara gedung tua, rumah tua yang sudah usang

Tidak ada lagicerita”

Barisan kata- kata Chairil ini ingin menegaskan keberahkiran akan sebuah hubungan kita yang hanya terekam dalam memori, tanpa ada kepastian. Ya kepastian itu pernah ada, tapi kamu terlanjur mengahkirinya setelah melalui keputusan yang amat bijak walau sempat membuatku terluka. Terluka karna kepercayaan diriku yang amat tinggi untuk memiliki hatimu suatu saat, berbanding terbalik dengan keinginanmu sekarang yang hanya ingin berteman tanpa ada ikatan hati. Terluka karna kamu mengucapkan sepotong kata tanpa sempat kucernah akanmaksud yang tersirat. Mungkin kamu sengaja membiarkan kata itu terlantar, dan ahh lagi-lagi itu menjadi beban yang terus mendera pikiranku.

Untuk sebuah nama,,,,, beberapa hari yang lalu masih terekam dalam ingatanku ketika media sosial pribadiku berwarna merah pertanda ada pesan masuk, aku membaca pesanmu yang sengaja kau kirim untukku. Aku kagum dengan kebijaksanaanmu dalam menimbang keputusan itu. Kamu telah mengahkiri perasaan “sayang” yang lahir dan berumur semalam itu melalui proses pertimbangan yang bagiku merupakan pertimbangan yang cerdas. Saatnya pujian ini terlontar untukmu, sebab kekagumanku akan pesonamu tidak akan layu seiring bergantinya musim.dan senja dikota ini menjadi saksi perenunganku akan sosokmu yang mengagungkan.

Dan segelas “Cappucino serta Djarum” telah habis dan yang tersisa adalah gelas kosong dan bungkusan, pertanda waktunya untuk beranjak sementara Suara Adzan mahgrib melengking membias seantero kota, kini tiba saatnya aku mengahkiri cerita tentangmu, dan membiarkanmu berkelana bebas dalam sejuta pilihan tentang masa depanmu. Yang kuharapkan dari cerita ini adalah keterbukaan hatimu menyimpan kenangan itu, hingga menguatkan rasa hati untuk menjalin pertemanan kita tanpa ada ikatan hati .

Dan di senja kota Pahlawan ini sebait puisi Chairil Anwar menjadi tanda ahkir cerita tentang kekaguman, tentang keterpesonaanmu yang selalu membuatku ingin terbang menggapaimu dalam ayat-ayat rindu yang menyelinap dibalik kegalauanku

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Salahkah bila Merindumu adalah ungkapan rasaku yang belum berhenti mengalir?? Hanya Tuhan dan kamu yang tahu jawabannya…

 

Jakarta 19 Mei 2018

download (1)

Pulau Bawean Gresik

Iklan

Kategori:INSPIRASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.