OPINI

Opini: Manuver SBY, Langkah Kuda Poni di Jabar dan Jatim?

FB_IMG_1529477960935

Oleh

Mohamad syahrul Ramadhan, SH

( Direktur Celebes Center )

SBY menuding aparat tidak netral dalam Pilkada; selain itu, menurut dia, BIN juga tidak netral. Jika Prabowo menggunakan strategi konfrontasi dengan Jokowi, di Pilkada ini mantan Presiden RI tersebut dikatakan menggunakan langkah yang lebih cantik. Berikut opini Eko Kuntadhi terkait manuver SBY yang menimbulkan banyak perdebatan tersebut.

Oleh: Eko Kuntadhi

Kemarin dengan gencar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerang pemerintah. Arahnya mungkin kepada Jokowi. Dia menuding aparat tidak netral dalam Pilkada. Bahkan katanya BIN juga tidak netral. Seperti layaknya bumbu drama Korea, ia menambahkan kalau karena ngomong seperti itu aparat mau menciduk-nya, ya ciduk saja.

Entahlah, kok mantan Presiden bisa menganggap dirinya sejenis cendol, bisa diciduk sembarangan. “Itu pernyataan sebay, mas,” ujar Abu Kumkum, singkat.

“Kok sebay, kang? Bukannya lebay?”

“Kalau yang bicara SBY, berarti sebay. Kalau lebay, yang ngomong itu LBY.”

Tapi oke-lah, mau sebay atau lebay, intinya dia mulai memenuhi timeline dengan keluhan dan gerutuan lagi. Kayaknya harapan kita agar mantan itu berhenti menggerutu agak susah tercapai. Sama seperti kita berharap Sumanto jadi vegetarian. Kemungkinannya sangat kecil.

Setelah pendekatannya dengan Jokowi untuk menyorongkan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) belum menampakkan hasil sepertinya SBY buru-buru mengambil posisi berseberangan. Kritiknya makin kencang.

Jangan salah, bukan soal sebay-nya itu yang menjadi perhatian saya. Justru dalam Pilkada serentak kali ini, SBY punya strategi lumayan ampuh. Jika Prabowo menggunakan strategi konfrontasi dengan Jokowi, di Pilkada ini SBY menggunakan langkah yang lebih cantik.

Prabowo misalnya, mengajukan perang terbuka dengan mendorong Edy Ramayadi di Sumut dan Sudirman Said di Jateng. Seperti biasa, karena ada bau PKS disana gaya kampanyenya masih sibuk jualan agama.

Sebagian orang sudah muak dengan gaya PKS ini tapi tampaknya di beberapa daerah rakyatya masih bisa dibohongi pakai ayat. Kita lihat saja Sumatera Utara, apakah politik yang menyeret-nyeret nama Tuhan akan menang lagi? Sementara di Jawa Tengah kampanye model begini sudah gak laku. Buktinya dari survei, elektabilitas Sudirman Said jauh di bawah Ganjar Pranowo.

images (1)

Sementara SBY, tidak mau main gaya konfrontasi model preman berjubah begitu. Dia lebih memilih memecah ombak dari dalam. Kader Partai Demokrat Dedi Mizwar (Demiz) disandingkan dengan Deddy Mulyadi di Jabar. Demiz bisa berdekatan kelompok garis keras yang populasinya lumayan banyak sementara DM menggarap segmen pluralis. Kedua segmen yang biasanya susah disatukan kini berada dalam sebuah kubangan politik.

Pilkada Jabar memang menjadi ajang penting, karena merupakan wilayah dengan penduduk terbanyak. Selain itu juga Jatim yang tidak kalah pentingnya. Nah, di kedua wilayah itulah SBY sangat konsen.

Di Pilkada Jatim SBY mendorong mantan menteri di era Khofifah Indar Parawansa untuk bertempur melawan Gus Ipul. Memang sih, Khofifah mantan menteri di era Jokowi. Tapi, majunya kali ini faktor Partai Demokrat lebih dominan. Artinya secara politiks, Khofifah lebih mungkin membalas budi pada SBY ketimbang Jokowi.

Kabarnya pada saat pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur dulu, ada kesepatakan antara Gus Ipul dengan Pakde Karwo bahwa setelah periode mereka selesai Pakde Karwo sebagai ketua Demokrat Jawa Timur wajib mendukung Gus Ipul untuk maju sebagai Cagub. Tapi yang namanya politik apa gunanya selembar kertas kesepakatan yang ditandatangani di atas meterai.

Dengan menguasai daerah lumbung suara tersebut tampaknya akan semakin memudahkan SBY untuk mendesakkan kepentingan politiknya. Jika mengusai dua daerah besar tersebut mungkin saja akan menghambat gerak Jokowi nanti pada saat Pilpres. Sekarang saja statemen-statemen SBY terlihat berposisi berseberangan.

Curhatnya begitu dalam dan menyedihkan dada. Tujuannya untuk meminta perhatian agar rakyat kembali iba seperti jaman dulu.

Kepentingan politik terbesar SBY adalah mendorong anaknya AHY untuk secepatnya tampil di mental nasional. Padahal AHY hanya mantan Mayor. Wong, mantan Kolonel saja cuma bisa bikin resep ayam goreng. Apalagi cuma mayor.

Tapi yang namanya sayang anak tidak perlu lagi alasan rasional.  Tukang balon saja, kalau merayu emak-emak untuk membeli balon bergambar Hello Kitty biasanya berteriak, “Sayang, anak. Sayang anak…”

Nah, AHY sudah dicobakan debutnya di Pilkada Jakarta kemarin. Pilkada yang memang paling ramai dan kandidatnya sangat beragam. Waktu itu di Jakarta Cagubnya ada Ahok yang keturunan Tionghoa. ada Anies Baswedan keturunan Arab. Ada juga Agus Harimurti keturunan SBY. Hasilnya kalah telak.

Tapi sebagai ortu yang baik kekalahan pada Pilkada Jakarta bukanlah akhir dari segalanya. Kini bahkan AHY sedang dipantas-pantaskan untuk menjadi Cawapres. Kita sudah mendengar beberapa skenario untuk memasangkannya dengan JK. Mirip pasangan om dan keponakan.

Yang perlu dicermati, politik di Indonesia saat ini memang terbagi menjadi empat spektrum besar. Pertama spektrum Jokowi, Prabowo dengan hulubalangnya PKS, dan SBY. Jika nanti JK memilih jalan lepas dari Jokowi ada kemungkinan akan tercipta spektrum baru lagi.

Keempat spektrum ini seperti magnet yang saling tarik menarik dan saling tolak. Probowo jelas sudah bertolak belakang dengan Jokowi. Serangannya kepada pemerintahan Jokowi selalu meng-kuda buta.

23

Sedangkan SBY menggunakan cara lain. Meskipun dia ikut merayakan lebaran kuda, tapi dia tidak ikut-ikutan menyerang dengan gaya meng-kuda buta. Paling hanya menggunakan jurus kuda poni yang unyu-unyu dan manis. Meski demikian permainannya pada Pilkada kali ini tidak bisa dianggap enteng.

Di Jatim kekuatannya mampu memecah suara NU dan kaum nasionalis. Pendukung Jokowi seperti terlena dengan kehadiran Khofifah yang dianggap juga bagian dari Jokowi. Padahal jika Khofifah memenangi pertarungan yang akan banyak mengambil manfaat adalah SBY dibanding Jokowi.

Bisa jadi, jika tidak dicermati dengan baik, Jabar dan Jatim nanti bisa menjadi batu sandungan untuk pemenangan Jokowi.

“Bagaimana dengan PKS, Mas? Mereka dukung Gus Ipul di Jatim lho?” Abu Kumkum galau.

“Begini, Kang. Jatim itu rumahnya NU. PKS cuma figuran disana. Gak usah dirisaukan. Kalau dia mau petakilan, bisa-bisa dipites,” Bambang Kusnadi membantuku menjawabnya. “Kalau dia berkuasa lagi di Jabar, baru kita perlu khawatir.”

Artinya bagi Jokowi, langkah kuda Poni ala SBY tidak kalah mengancamnya dengan auman Macan Cisewu yang sedang galau.

 

By   RMS

 

 

36200236_238123863631869_4279923228152954880_n

Iklan

Kategori:OPINI, POLITIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.