KALIMANTAN TIMUR

In Memory Awang Terkait 10 Tahun Memimpin Kaltim

download (7)

Mantan Gubernur Kaltim 2 Periode Awang Faroek

Samarinda-Kabarpersada.com, – Awang Faroek dan istri, Ence Amelia Suharni tampak duduk santai di depan televisi saat Tribun kunjungi di kediamannya, Jalan Barito Samarinda, Sabtu (22/9) lalu.

Saat itu, baru enam jam berselang dirinya dinyatakan lengser dari jabatan orang nomor 1 di Kaltim, ketika Restuardy Daud dilantik jadi Penjabat Gubernur pukul 09.30 WITA pagi harinya.

“Oh, sudah lega sekali. Karena tanggung jawabnya cukup berat untuk jadi Gubernur itu. Tak sembarangan, tanggung jawab itu diberikan oleh rakyat, melalui pemilihan, kalau sebelumnya melalui DPRD,” ucap Awang santai.

Kenakan baju polos biru, Awang kini sudah tak miliki beberapa fasilitas yang biasa ia punyai. Ajudan pribadi, hingga staf khusus yang biasa mendampingi dirinya mendorong kursi roda, sudah tak tampak lagi ada di rumah Jalan Barito Samarinda.

Diwawancara sekitar 1 jam, ia ikut buka-bukaan terkait waktu 10 tahun kepemimpinan, mulai saat bersama Farid Wajdy periode 2008- 2013 hingga bersama almarhum Mukmin Faisyal periode 2013- 2018.

Selama 10 tahun memimpin Kaltim, banyak proyek fisik yang dikerjakan Awang Faroek. Terdata, Bandara APT Pranoto, Jalan tol Balikpapan-Samarinda, Jembatan Mahakam IV (jembatan kembar), Maloy, rencana pembangunan kereta api jalur utara dan selatan, Convention Hall, hingga masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda adalah beberapa dari banyak lagi yang dikerjakan selama kurun waktu 10 tahun. Beberapa ada yang selesai, beberapa lagi masih dikerjakan sampai akhirnya ia lengser.

Pola pembangunan yang tak bisa dinikmati sekarang, disebut Awang jadi alasan mengapa ia lebih memilih membangun dasar pembangunan di Kaltim. Disebutnya, proyek-proyek tersebut pasti akan bermanfaat justru ketika dirinya sudah tak lagi memimpin Kaltim.

Tak melulu soal proyek, Awang juga ikut bercerita terkait gonjang-ganjing selama masa pemerintahannya. Diakuinya semua tak berjalan mulus. Salah satunya soal aspek kesehatan. Awang sempat “ditawarkan” panitia khusus kesehatan oleh Dewan di Karang Paci.

Penyebabnya, kondisi kesehatan Awang dianggap tak sanggup untuk bisa terus memimpin Kaltim. Saat itu terjadi, Awang bahkan sempat berujar jika tak disuruh berhentipun ia pasti juga akan berhenti.

download (5)Menjawab hal itu, Awang kembali berpikir sebentar kemudian langsung ikut menjawab.”Itu biasa bagi saya. Kita ikuti saja kebenaran. Kebenaran itu tidak pernah berpihak. Sama seperti wartawan yang juga tak pernah berpihak. Banyak yang terjadi, seperti misalnya masjid. Saya diganggu terus. DPRD juga tak konsisten. Mestinya ketika sudah sepakat dengan persetujuan DPRD, ya biarkan. Jangan ditengah jalan, mau diganggu lagi. Itu proyek yang tak bisa dihambat. Termasuk IMB. Kami sudah ajukan kepada PTSP Samarinda. Menurut UU, apabila 21 hari tak dijawab, dianggap sudah diterima. Makanya kami jalan terus,” katanya.

Dua kali cobaan besar juga ikut disebutnya. Awang sampaikan itu adalah fitnah besar lawan politik yang ia alami. Termasuk penetapan tersangka dalam divestasi saham KPC.

“Saya pernah 2 kali difitnah. Pertama, waktu saya bangun Bukit Pelangi (Kutim). APBD waktu itu sedang defisit. Saya pinjam uang di BPD. Berhasil saya bangun Bukit Pelangi Rp 270 Miliar. Tetapi, saya sadar, uang tak saya ambil di BPD. Dikeluarkan sesuai progress pembangunan. Jadi, uangnya tak saya tarik,” ucapnya.

Berlanjut waktu, disebut Awang ketika dirinya maju dalam Pemilihan Gubernur isu tersebut kemudian muncul.

“Saya diisukan saya pakai uang itu, sempat saya diperiksa oleh jaksa. Itu (fitnah) lawan politik saya. Saya disebut gunakan uang untuk pemilihan Gubernur yang pertama saya ikuti. Yang saya gagal itu. Akhirnya, dibuktikan (jika tidak). Lagipula, kalau saya pakai uang itu, tak mungkin saya kalah kan ?,” ucapnya.

Fitnah kedua, disebutnya adalah tuduhan menjual saham KPC. Penetapan Awang sebagai tersangka tersebut terjadi di 2010. Saat itu, sebelum nama Awang jadi tersangka, dua nama lain, yakni Anung Nugroho (Direktur Utama PT. Kutai TImur Energi) dan Apidian Tri Wahyudi (Direktur PT. Kutai Timur Energi) telah lebih dulu ditetapkan Kejagung sebagai tersangka.

“Saya sempat jadi tersangka. Tetapi semua orang tahu kalau saya tidak. Intinya, kalau kita tak korupsi, kenapa kita risih. Akhirnya kan saya diberi penghargaan oleh Kejaksaan Agung. Bayangkan saya jadi tersangka 3 tahun. Pak SBY bantu saya. Beliau katakan, saya akan berikan izin agar pak Awang diperiksa, tetapi, buktikan dahulu apa buktinya pak Awang korupsi. Akhirnya kan di SP 3 kan. Beliau (SBY) anggap saya Gubernur yang baik,” kata Awang. (‘wy )

1_2

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.