POLISI Bersama Masyarakat. Kalimat ini terdengar begitu manis. Tapi, maaf, ada pertanyaan usil, selama ini polisi bersama siapa? Sebaliknya, ketika warga mencari pertolongan dan keadilan, mereka harus bersama siapa? Jangan-jangan, polisi dan masyarakat baru terasa akrab setelah dipertemukan lewat sebuah tagline.
Padahal, bagi warga, hubungan dengan polisi bukan perkara cocok atau tidak dengan sebuah slogan. Ada laporan yang menunggu kepastian, keluhan yang berharap didengar, dan perkara yang tak kunjung menemukan ujung. Dalam situasi seperti itu, warga tentu lebih membutuhkan jawaban daripada rangkaian kata yang enak dibaca.
Masyarakat ingin dilayani tanpa dipersulit, didengar tanpa harus lebih dulu viral, dan diperlakukan setara tanpa perlu bertanya siapa yang dikenal atau seberapa kuat koneksi yang dimiliki. Harapan semacam ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, bagi warga yang sedang berhadapan dengan persoalan, kesederhanaan itu bisa terasa panjang ketika jawaban tak kunjung datang.
Di lingkungan Polri, pergantian semboyan bukan hal baru. Pada era Jenderal Tito Karnavian, ada Promoter. Di bawah Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hadir Presisi. Kini, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memperkenalkan “Polisi Bersama Masyarakat”.
Setiap semboyan datang dengan semangat zamannya. Namun, bagi masyarakat, ukuran kedekatan dengan polisi barangkali tak serumit menyebut atau menghafal sebuah tagline. Ukurannya justru terasa ketika seseorang datang membawa masalah, apakah laporannya diterima dengan baik, apakah keluhannya mendapat tanggapan, dan apakah ada kejelasan yang bisa dibawa pulang.
Sebab, ketika sedang mencari keadilan, warga tak sedang mencari kalimat untuk dipajang. Mereka sedang mencari jalan keluar. Spanduk bisa berganti, istilah bisa diperbarui, tetapi pengalaman berhadapan dengan pelayanan tetap melekat dalam ingatan.
Di tengah perbincangan tentang semboyan itulah, nama Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso kembali menarik untuk dikenang. Kapolri periode 1968–1971 itu masih disebut hingga puluhan tahun setelah meninggalkan jabatannya. Namanya lekat dengan cerita tentang integritas, kesederhanaan, dan keteguhan memegang prinsip.
Menariknya, Hoegeng tak hidup pada zaman ketika slogan mudah beredar melalui media sosial. Namun, namanya tetap melintasi generasi. Ia dikenang bukan karena kalimat promosi yang melekat pada jabatannya, melainkan karena sosok dan sikapnya meninggalkan kesan di tengah masyarakat.
Tentu, zaman Hoegeng berbeda dengan hari ini. Cara kerja kepolisian pun menghadapi tantangan yang berbeda. Namun, ada harapan warga yang tak pernah berubah, ingin merasa aman, mendapat pelayanan yang layak, dan memperoleh keadilan tanpa harus menjadi orang penting lebih dulu.
Pada akhirnya, “Polisi Bersama Masyarakat” boleh menjadi semboyan baru. Kalimat itu mudah diucapkan, mudah pula dicetak di spanduk. Namun, maknanya akan selalu berhadapan dengan pengalaman sehari-hari warga ketika bertemu polisi.
Sekali lagi, nama Hoegeng tetap dikenang jauh setelah masa jabatannya berakhir. Barangkali, di situlah letak bedanya: tagline bisa berganti mengikuti zaman, tetapi kesan tentang seseorang bertahan karena apa yang ia tinggalkan. Dan Hoegeng dikenang bukan karena tagline.**
Penulis: Putra Ginting









