Hoegeng Dikenang Bukan karena Tagline

Sunday, 11 October 2026 - 17:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso (Istimewa)

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso (Istimewa)

POLISI Bersama Masyarakat. Kalimat ini terdengar begitu manis. Tapi, maaf, ada pertanyaan usil, selama ini polisi bersama siapa? Sebaliknya, ketika warga mencari pertolongan dan keadilan, mereka harus bersama siapa? Jangan-jangan, polisi dan masyarakat baru terasa akrab setelah dipertemukan lewat sebuah tagline.

Padahal, bagi warga, hubungan dengan polisi bukan perkara cocok atau tidak dengan sebuah slogan. Ada laporan yang menunggu kepastian, keluhan yang berharap didengar, dan perkara yang tak kunjung menemukan ujung. Dalam situasi seperti itu, warga tentu lebih membutuhkan jawaban daripada rangkaian kata yang enak dibaca.

Masyarakat ingin dilayani tanpa dipersulit, didengar tanpa harus lebih dulu viral, dan diperlakukan setara tanpa perlu bertanya siapa yang dikenal atau seberapa kuat koneksi yang dimiliki. Harapan semacam ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, bagi warga yang sedang berhadapan dengan persoalan, kesederhanaan itu bisa terasa panjang ketika jawaban tak kunjung datang.

Di lingkungan Polri, pergantian semboyan bukan hal baru. Pada era Jenderal Tito Karnavian, ada Promoter. Di bawah Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hadir Presisi. Kini, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memperkenalkan “Polisi Bersama Masyarakat”.

Setiap semboyan datang dengan semangat zamannya. Namun, bagi masyarakat, ukuran kedekatan dengan polisi barangkali tak serumit menyebut atau menghafal sebuah tagline. Ukurannya justru terasa ketika seseorang datang membawa masalah, apakah laporannya diterima dengan baik, apakah keluhannya mendapat tanggapan, dan apakah ada kejelasan yang bisa dibawa pulang.

Sebab, ketika sedang mencari keadilan, warga tak sedang mencari kalimat untuk dipajang. Mereka sedang mencari jalan keluar. Spanduk bisa berganti, istilah bisa diperbarui, tetapi pengalaman berhadapan dengan pelayanan tetap melekat dalam ingatan.

Di tengah perbincangan tentang semboyan itulah, nama Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso kembali menarik untuk dikenang. Kapolri periode 1968–1971 itu masih disebut hingga puluhan tahun setelah meninggalkan jabatannya. Namanya lekat dengan cerita tentang integritas, kesederhanaan, dan keteguhan memegang prinsip.

Menariknya, Hoegeng tak hidup pada zaman ketika slogan mudah beredar melalui media sosial. Namun, namanya tetap melintasi generasi. Ia dikenang bukan karena kalimat promosi yang melekat pada jabatannya, melainkan karena sosok dan sikapnya meninggalkan kesan di tengah masyarakat.

Tentu, zaman Hoegeng berbeda dengan hari ini. Cara kerja kepolisian pun menghadapi tantangan yang berbeda. Namun, ada harapan warga yang tak pernah berubah, ingin merasa aman, mendapat pelayanan yang layak, dan memperoleh keadilan tanpa harus menjadi orang penting lebih dulu.

Pada akhirnya, “Polisi Bersama Masyarakat” boleh menjadi semboyan baru. Kalimat itu mudah diucapkan, mudah pula dicetak di spanduk. Namun, maknanya akan selalu berhadapan dengan pengalaman sehari-hari warga ketika bertemu polisi.

Sekali lagi, nama Hoegeng tetap dikenang jauh setelah masa jabatannya berakhir. Barangkali, di situlah letak bedanya: tagline bisa berganti mengikuti zaman, tetapi kesan tentang seseorang bertahan karena apa yang ia tinggalkan. Dan Hoegeng dikenang bukan karena tagline.**

Penulis: Putra Ginting

Facebook Comments Box

Berita Terkait

PP Polri Buka Hidroterapi Gratis, Wujud Kepedulian kepada Purnawirawan
Dari Reuni Kecil Para Jenderal, Muncul Pesan untuk Kapolri Baru
Hari Pertama di Polda Metro, Keramahan Kecil Duet Dadang-Adex Mencuri Hati
Taklimat Prabowo dan Konsolidasi Elite TNI-Polr
Sentuhan Humanis di Tengah Aksi Ojol di Depan Gedung DPR/MPR RI
Berstatus Tersangka, Firli Raih Gelar Doktor Hukum, PAKAR: Kapan Giliran Polda Tuntaskan Perkaranya?
Ujian Pertama Profesor Dadang: Menembus Tembok Tebal Kasus Firli Bahuri
Police Women Run di Bukittinggi, Kapolda Sumbar Ingin Sejarah dan Wisata Ikut Berlari

Berita Terkait

Sunday, 11 October 2026 - 17:51 WIB

Hoegeng Dikenang Bukan karena Tagline

Saturday, 10 October 2026 - 23:59 WIB

PP Polri Buka Hidroterapi Gratis, Wujud Kepedulian kepada Purnawirawan

Saturday, 10 October 2026 - 23:53 WIB

Dari Reuni Kecil Para Jenderal, Muncul Pesan untuk Kapolri Baru

Wednesday, 7 October 2026 - 22:41 WIB

Taklimat Prabowo dan Konsolidasi Elite TNI-Polr

Tuesday, 6 October 2026 - 18:44 WIB

Sentuhan Humanis di Tengah Aksi Ojol di Depan Gedung DPR/MPR RI

Monday, 5 October 2026 - 12:58 WIB

Berstatus Tersangka, Firli Raih Gelar Doktor Hukum, PAKAR: Kapan Giliran Polda Tuntaskan Perkaranya?

Monday, 5 October 2026 - 12:16 WIB

Ujian Pertama Profesor Dadang: Menembus Tembok Tebal Kasus Firli Bahuri

Sunday, 27 September 2026 - 23:40 WIB

Police Women Run di Bukittinggi, Kapolda Sumbar Ingin Sejarah dan Wisata Ikut Berlari

Berita Terbaru

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso (Istimewa)

Ragam

Hoegeng Dikenang Bukan karena Tagline

Sunday, 11 Oct 2026 - 17:51 WIB