JAKARTA – Seragam dinas memang sudah lama dilipat dan disimpan rapi. Masa tugas telah dituntaskan. Seharusnya, para jenderal purnawirawan ini bisa menikmati hari-hari santai: duduk di teras, menyeruput kopi, atau menemani cucu bermain.
Namun, ada satu hal yang rupanya tak ikut pensiun, yakni rasa memiliki terhadap Korps Bhayangkara.
Ketika dugaan penyadapan ilegal yang menyeret sejumlah nama petinggi Polri mencuat dan mengguncang institusi, para sesepuh itu tak bisa tinggal diam. Mereka prihatin, sedih, sekaligus geram. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar polemik antarpetinggi, melainkan menyangkut kehormatan institusi yang puluhan tahun mereka bangun dan jaga.
Kamis (5/11) pagi, mereka pun turun gunung. Ketua Umum PP Polri Jenderal Pol. (Purn.) Bambang Hendarso Danuri (BHD) tidak sendirian. Sejumlah mantan Kapolri, yakni Jenderal Pol. (Purn.) Sutanto, Jenderal Pol. (Purn.) Da’i Bachtiar, dan Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti, turut berada dalam barisan dukungan.
Ada pula mantan Wakapolri Komjen Pol. (Purn.) Adang Daradjatun dan Komjen Pol. (Purn.) Makbul Padmanagara, serta para senior purnawirawan, di antaranya Komjen Pol. (Purn.) Togar M. Sianipar, Komjen Pol. (Purn.) Gories Mere, Komjen Pol. (Purn.) Heru Winarko, Komjen Pol. (Purn.) Rudy Sufahriadi, dan Irjen Pol. (Purn.) Sunarko.
Deretan nama itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap Polri melintasi generasi kepemimpinan. Mereka boleh tak lagi memegang jabatan, tetapi perhatian terhadap rumah besar yang pernah mereka bangun belum ikut pensiun.
Mengenakan seragam khas dan baret kebanggaan Persatuan Purnawirawan (PP) Polri, rombongan mendatangi Lobby Utama Gedung Rupatama Mabes Polri. Kali ini, mereka bukan datang untuk memimpin apel atau memberikan perintah, melainkan menyuarakan kepedulian terhadap almamater.
Memang, usia boleh bertambah dan rambut memutih. Namun, semangat korps rupanya masih menyala. Urusan membela kehormatan almamater ternyata belum masuk daftar kegiatan yang boleh dipensiunkan.
Di hadapan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dan jajaran Pejabat Utama (PJU), BHD menyampaikan keprihatinannya secara terbuka. Ia bahkan menyebut pelaku penyadapan ilegal sebagai pengkhianat yang harus ditindak tegas.
“Kami prihatin dan sedih atas peristiwa ini. Mereka yang melakukan penyadapan ilegal adalah pengkhianat yang layak untuk dilakukan tindakan tegas. Ini bukan persaingan antara Kapolri dan mantan Kapolri, melainkan murni peristiwa pidana. Dengan kejelian dan keberanian Bapak Kapolri, beliau melakukan tindakan tegas tanpa pandang bulu. Beliau baru saja menata kembali institusi ini, dan ini adalah kebanggaan kami,” tandas BHD.
Pernyataan itu menegaskan bahwa para purnawirawan tidak ingin persoalan tersebut dipandang sebagai persaingan antara Kapolri dan para pendahulunya. Bagi mereka, yang utama adalah penegakan hukum dan terjaganya kehormatan institusi.
Dalam kunjungan itu, PP Polri juga menyerahkan tujuh pesan moral kepada Kapolri. Isinya antara lain komitmen mengawal penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan, menjaga soliditas internal, serta menghidupkan kembali semangat Polisi Bersama Masyarakat.
Dukungan tersebut bukan berarti memberi cek kosong. Para sesepuh ingin Polri tetap berdiri di atas prinsip hukum, profesionalitas, dan kepercayaan masyarakat. Sebab, menjaga nama baik institusi bukan hanya tanggung jawab mereka yang masih berseragam aktif, tetapi juga para purnawirawan yang pernah membesarkannya.
Aksi turun gunung itu menyisakan pesan sederhana: jabatan boleh berakhir, bintang di pundak boleh tinggal kenangan, tetapi jiwa korsa tak mengenal batas usia.
Bagi para jenderal sepuh itu, pensiun mungkin berarti berhenti menerima perintah kedinasan. Namun, soal membela rumah besar Polri, rupanya mereka belum merasa waktunya berhenti.**
Penulis : tra ginting









