JAKARTA–Di tengah perang panjang melawan narkoba, ada perwira yang memilih bekerja lebih banyak daripada berbicara. Namanya Brigjen Pol Eko Hadi Santoso. Selama memimpin Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, ia berada di salah satu garis paling keras dalam perang melawan jaringan narkotika.
Kini, setelah setahun memburu bandar, membongkar jaringan dan mengungkap sejumlah kasus besar di berbagai daerah, Eko meninggalkan posisi tersebut dengan membawa satu hal penting, bintang dua di pundaknya.
Mabes Polri melakukan rotasi besar-besaran terhadap 78 perwira tinggi melalui Surat Telegram ST/1877/VIII/KEP./2026. Salah satu nama yang menonjol dalam gerbong mutasi itu adalah Eko, yang dipromosikan menjadi Inspektur Jenderal (Irjen) dan dipercaya menduduki posisi Penyidik Tindak Pidana Utama TK I Bareskrim Polri.
Promosi itu terasa seperti penanda sebuah perjalanan panjang. Sebab sebelum dikenal sebagai salah satu perwira yang berada di garis depan pemberantasan narkoba, Eko lebih dahulu ditempa dalam dunia reserse dan penanggulangan terorisme.
Alumni Akpol 1999 tersebut pernah menjabat Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok pada 2018, kemudian dipercaya sebagai Kabag Monev Robinopsnal Bareskrim Polri pada 2020. Pada 2022, ia mendapat kepercayaan sebagai perwira tinggi di Divisi TIK Polri setelah cukup lama berkecimpung dalam penanganan terorisme.
Lalu pada 2025, arah perjalanan kariernya berubah tajam.
Eko masuk ke medan pemberantasan narkotika dan dipercaya sebagai Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri.
Di dunia yang penuh jaringan gelap, uang besar dan permainan berlapis itu, Eko dikenal sebagai perwira yang memilih garis tegas, narkoba harus diburu sampai ke akar.
Setahun berada di Direktorat Narkoba menjadi panggung pembuktian. Sejumlah pengungkapan besar dilakukan jajarannya di berbagai wilayah Indonesia. Bukan sekadar mengejar pelaku di lapangan, tetapi juga membongkar jaringan yang berada di belakangnya.
Kini, medan tugasnya kembali berubah.
Namun satu hal tampaknya tidak berubah, karakter seorang reserse yang sudah lama ditempa menghadapi kejahatan serius—bekerja dalam senyap, bergerak dengan jaringan informasi, lalu datang ketika waktunya tepat untuk melakukan penindakan.
Bintang dua akhirnya terpasang.
Tetapi bagi seorang perwira yang lama berada di garis depan pemberantasan kejahatan, bintang bukanlah garis akhir.
Ia justru bisa menjadi awal dari medan yang lebih besar.**
Penulis : tra ginting
Sumber Berita : humas polri









