TANGERANG KOTA–Kabar burung yang menyebut Surat Ijin Mengemudi (SIM) bisa diperoleh di Satpas SIM Tangerang Kota tanpa ujian teori maupun praktik ternyata bukan isapan jempol, tapi memang benar adanya.
Setidaknya penuturan dua pemohon SIM berikut, sebut saja namanya Ahmad dan Andi (bukan nama sebenarnya) membuktikan bahwa di Satpas SIM Tangerang Kota masih ada ‘loket terselubung’ yang membebaskan pemohon SIM dari ujian teory dan praktik.
“Untuk SIM A, masing-masing kami diminta menyiapkan uang Rp 750 ribu. Padahal kan harga resminya hanya berkisar Rp 250 ribu. Nggak apalah bayar lebih, yang penting urusan lancar,” kata Ahmad dan Rudi saat berbincang dengan media ini lokasi, pada Kamis (17/6) dini hari,
“Tadi kami hanya diminta menyiapkan beberapa lembar foto copy KTP. Setelah itu foto. Tidak ada ujian teory maupun praktik dan menunggu sekitar 30 menit, SIM sudah jadi,” tutur Ahmad.
“Kalau tanpa bantuan orang dalam kita harus ujian segala macam, seperti ujian praktik, urusannya jadi ribet pak karena belum tentu juga langsung lulus. Begini kan lebih enak, 30 menit, SIM sudah jadi,” timpal Rudi.
Ketika ditanya, kedua warga Tangerang yang mengaku bekerja di sektor swasta ini tidak merasa bersalah meski memperoleh SIM dengan cara kongkalikong dengan calo yang bermufakat dengan oknum petugas.
“Kami justru merasa beruntung ada yang membantu. Lagi pula kan kami sudah membayar mahal, jadi wajar dong dapat pelayanan istimewa,” kata keduanya.
Ahmad dan Rudi mendatangi kantor Satpas di pagi hari, sebelum jam kerja. Kata mereka, saat pagi buta, tak ada antrian, proses pengurusan pun dapat berlangsung lebih cepat dan efektif bila dibandingkan jam pelayanan reguler.
Untuk memudahkan warga yang memiliki waktu terbatas, Satpas SIM Tengerang Kota memberikan pelayanan di luar jam kerja, tepatnya dimulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 07,00 WIB.
Tidak Terkejut
Ketua Indonesia Traffic Watch Edison Siahaan mengaku, dirinya tidak terkejut jika ditemukan ada praktik percaloan di lingkungan Satpas SIM Tangerang Kota.
“Praktik percaloan di lingkungan tidak hanya terjadi di Tangerang Kota tapi juga di Satpas lainnya. Ini kan seperti penyakit lama yang tidak kunjung sembuh,” cetusnya.
Edison mengakui, praktik curang di lingkungan Satpas SIM memang sulit ditertibkan karena antara pemohon SIM dan para oknum, apalagi calo, sudah terlanjur saling membutuhkan.
“Calo, entah itu disebut biro jasa atau yang lainnya, diberi ruang oleh oknum untuk menjaring pemohon SIM. Sementara itu masyarakat pun tidak keberatan meski membayar lebih asal diberi kemudahan,” katanya.
Edison mengatakan, dirinya meyakini praktik percaloan di lingkungan Satpas SIM pada gilirannya akan menghasilkan pengemudi yang tidak kompeten.
“Lha, akhirnya begini loh, bagaimana mungkin kita mengharapkan tertib berlalu lintas terwujud jika warga mendapat SIM bukan berdasarkan kompetensi ? Bisa-bisa orang-orang yang ‘membeli’ SIM lewat calo itu nantinya menjadi horor di jalan raya,” tandasnya.
Edison mengatakan, Satpas SIM adalah etalase wajah Polri, bukan tempat untuk mencari cuan. Menurut mantan Ketua Wartawan Polri ini, sudah saatnya Satpas ditertibkan dengan hati yang tulus dan kesungguhan.
“Setahu saya pimpinan di lingkungan Satpas SIM adalah perwira pilihan. Mereka rata-rata lulusan Akademi Kepolisian. Nah, sebagai calon pemimpin Polri masa depan, tentunya mereka berniat membenahi Satpas,” katanya. (Jef)









