JAKARTA–Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Ungkapan duka tersebut disampaikan Dasco melalui akun Facebook pribadinya. Dalam pesannya, Dasco mengenang almarhum sebagai sosok yang telah meninggalkan jejak dan kontribusi berarti bagi Indonesia, terutama melalui dedikasinya dalam dunia seni, budaya, serta pengabdiannya di bidang politik.
Guruh Soekarnoputra dikenal sebagai seniman yang memberi warna pada perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia melalui karya musik, tari, koreografi, dan seni pertunjukan. Kecintaannya terhadap budaya kemudian berjalan beriringan dengan pengabdian di dunia politik. Guruh tercatat sebagai anggota DPR RI dari PDI dan kemudian PDI Perjuangan dalam sejumlah periode, hingga periode 2019–2024.
Perjalanan tersebut membuat Guruh dikenang bukan semata sebagai putra Bung Karno, melainkan sebagai sosok yang membangun jejaknya sendiri melalui karya seni, kebudayaan, dan pengabdian sebagai wakil rakyat.
“Karya, pemikiran, dan pengabdian beliau merupakan bagian dari perjalanan bangsa yang patut dikenang dan dihormati. Apa yang telah beliau wariskan akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian dari sejarah Indonesia,” tulis Dasco dalam unggahannya.
Dasco mengatakan, kepergian seorang tokoh selalu meninggalkan ruang kehilangan. Namun, bagi mereka yang telah mengabdikan hidupnya untuk berkarya dan memberi arti, kepergian bukan berarti berakhirnya jejak yang ditinggalkan.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan, kekuatan, dan ketabahan,” tulis Dasco.
Guruh kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, berdampingan dengan pusara ibundanya, Fatmawati. Di tempat peristirahatan terakhir itu, keluarga, kerabat, dan para pelayat memberikan penghormatan terakhir. Tabur bunga menjadi bagian dari suasana haru ketika satu per satu orang datang melepas kepergian sang seniman dan politisi tersebut.
Di antara bunga yang ditaburkan dan doa yang dipanjatkan, perjalanan panjang Guruh seakan menemukan titik akhirnya. Namun, jejaknya tidak berhenti di pusara. Karya-karya yang lahir dari kecintaannya terhadap seni dan budaya, serta pengabdiannya di panggung politik, akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Indonesia.
“Pada akhirnya, manusia akan dikenang bukan hanya karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang ditinggalkannya untuk sesama. Almarhum telah menorehkan bagiannya dalam perjalanan Indonesia. Kini, karya dan pengabdiannya menjadi bagian dari kenangan bangsa,” tutur Dasco.**
Penulis : tra ginting








