JAKARTA — Penggerebekan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/11/2026), kembali menyisakan pekerjaan rumah bagi Polda Metro Jaya. Sejumlah bandar narkoba yang menjadi target operasi justru lolos dari sergapan petugas. Hingga operasi berakhir, mereka belum berhasil diamankan dan masih dalam pengejaran polisi.
Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Dadang Hartanto mengakui sejumlah bandar tersebut melarikan diri. Meski demikian, ia memastikan polisi telah mengantongi identitas dan mengetahui posisi mereka.
“Untuk yang target memang mereka melarikan diri, tapi kita sudah ada datanya dan posisinya di mana,” kata Kapolda seusai penggerebekan.
Pernyataan tersebut mendapat sorotan Pemantau Kinerja Aparatur untuk Rakyat (PAKAR). Ketua PAKAR Ikhwan Andi Aziz menilai, jika identitas dan keberadaan bandar sudah diketahui, kepolisian harus segera membuktikannya melalui penangkapan. Jangan sampai informasi itu hanya berhenti menjadi data, sementara para bandar tetap bebas menjalankan bisnis narkobanya.
Ikhwan juga meminta Polda Metro Jaya mengevaluasi pelaksanaan operasi, terutama menyangkut kerahasiaan rencana penggerebekan. Lolosnya sejumlah target utama, menurut dia, patut ditelusuri, termasuk kemungkinan adanya informasi operasi yang lebih dahulu bocor kepada sasaran.
“Kita tidak buru-buru menyimpulkan ada kebocoran informasi. Tetapi kemungkinan itu juga harus dievaluasi. Bagaimana para bandar bisa melarikan diri sebelum petugas mengamankan sasaran utama? Ini pertanyaan yang harus dijawab agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Menurut Ikhwan, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari pola pemberantasan narkoba di sejumlah kawasan Jakarta yang berulang kali menjadi sasaran penggerebekan. Kampung Bahari, Kampung Ambon, dan lokasi lainnya sudah berkali-kali didatangi aparat. Namun, penangkapan yang terlihat justru lebih banyak menyasar pemakai, penjaga lapak, hingga pengedar eceran. Sementara bandar besar yang mengendalikan peredaran masih sulit dijangkau.
“Jangan sampai penggerebekan hanya menjadi acara rutin. Polisi datang, lapak dibongkar, sejumlah orang ditangkap, kemudian beberapa waktu berikutnya aktivitas narkoba muncul lagi. Kalau polanya terus seperti ini, kapan bandar besarnya ditangkap dan jaringan pemasoknya diputus?” sentilnya.
Karena itu, Ikhwan meyakini Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya di bawah pimpinan Kombes Bismo Teguh Prakoso tidak akan hanya mengandalkan penggerebekan terbuka. Penyelidikan tertutup, penelusuran aliran barang dan uang, serta undercover buy sesuai ketentuan hukum sedang dimaksimalkan untuk membongkar jaringan, mulai dari pengedar lapangan hingga pemasok dan pengendali utamanya.
Di sisi lain, rencana penataan kawasan bantaran rel bersama PT KAI dan Pemprov DKI Jakarta sebagaimana disampaikan Kapolda dinilai penting. Namun, penataan kawasan tidak boleh dianggap sebagai jawaban akhir pemberantasan narkoba. Membongkar lapak transaksi tidak otomatis memutus jaringan yang memasok barang haram tersebut.
“Kalau jaringan pemasok dan bandarnya masih bebas bergerak, Kampung Bahari bisa saja dibongkar, tetapi lokasi lain akan muncul sebagai pengganti. Para pemainnya tinggal berpindah tempat. Jadi, yang harus diburu bukan hanya lokasi transaksi, melainkan orang-orang yang menghidupkan bisnis narkoba itu,” tegas Ikhwan.
Ia menambahkan, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak semestinya hanya diukur dari jumlah orang yang ditangkap, barang bukti yang disita, atau lapak yang dibongkar. Ukuran utamanya adalah keberhasilan menangkap bandar besar dan memutus jaringan pemasoknya.
“Publik tidak hanya menunggu penggerebekan berikutnya. Publik ingin melihat bandar besar yang sudah diketahui identitas dan posisinya benar-benar ditangkap. Jangan sampai polisi berkali-kali menguasai lokasi, tetapi pengendali bisnisnya tetap lolos. Kalau itu yang terjadi, penggerebekan hanya menjadi rutinitas, sementara bisnis narkoba terus berjalan dengan alamat berbeda,” tutup Ikhwan.**
Penulis : tra ginting









