JAKARTA — Pencegatan kapal kargo berbendera Mongolia di Belawan, penyitaan berton-ton sabu di perairan Batam, hingga terbaru pembongkaran laboratorium rahasia (clandestine lab) dengan barang bukti hampir 1,2 ton di Pidie, Aceh, memperlihatkan besarnya ancaman jaringan narkotika yang dihadapi Indonesia.
Di balik rentetan pengungkapan tersebut, ada satu hal yang menjadi perhatian mantan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol (Purn) Arman Depari, yakni konsistensi aparat dalam menjaga pengawasan dan melakukan penindakan. Sebab, menurut dia, sindikat narkotika bisa memanfaatkan kelengahan sekecil apa pun untuk kembali menjalankan aksinya.
“Dalam pemberantasan narkotika, kita tidak boleh lengah sama sekali. Jangankan sebulan, seminggu saja kita lengah, dampaknya sangat berbahaya,” kata Arman dalam dialog di stasiun televisi, Sabtu (24/10).
Berangkat dari pandangan itu, Arman mengapresiasi langkah Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Ia menilai Suyudi memahami strategi untuk memutus rantai pasok narkotika, terutama yang melibatkan jaringan internasional.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah pengawasan jalur masuk narkotika dari luar negeri. Pesisir timur Sumatra, misalnya, merupakan kawasan rawan penyelundupan karena jaringan narkotika dapat memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan tidak resmi untuk memasukkan barang terlarang ke Indonesia.
Pengungkapan di sejumlah wilayah, termasuk pembongkaran laboratorium narkotika di Aceh yang melibatkan dua koki peracik asal China, memperlihatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata penyelundupan. Di balik barang bukti yang disita, terdapat jaringan produksi dan distribusi yang juga harus ditelusuri hingga ke para pengendalinya.
Karena itu, pengawasan jalur masuk perlu berjalan beriringan dengan penindakan di dalam negeri. Arman menilai komitmen Kapolri yang mendorong seluruh Kapolda hingga Kapolres membersihkan kampung-kampung narkoba di wilayah masing-masing merupakan bagian penting dari upaya tersebut. Namun, penindakan di titik peredaran harus diikuti dengan penelusuran terhadap pemasok agar jaringan itu tidak sekadar berpindah tempat.
Pada akhirnya, kata Arman, tantangan terbesar bukan hanya mengungkap kasus, melainkan memutus mata rantai bisnis narkotika hingga ke akarnya. Arman mengingatkan agar penegakan hukum tidak berhenti pada kurir atau pekerja lapangan. Bandar besar, baik di dalam maupun luar negeri, perlu diburu melalui penguatan kerja sama penegakan hukum lintas negara.
Pengalaman panjang Arman dalam pemberantasan narkotika membuatnya menempatkan pencegahan sebagai ukuran keberhasilan yang tak kalah penting dari penindakan. Sebab, banyaknya barang bukti dan tersangka yang ditangkap belum dengan sendirinya menjamin pasokan narkotika dapat dibendung.
“Ukuran sukses yang sebenarnya bukan cuma memamerkan angka tangkapan atau deretan tersangka, melainkan bagaimana caranya agar narkoba tidak pernah sempat menginjakkan kaki di Indonesia.” tandasnya.
Penulis : tra ginting
Sumber Berita : Metro TV









