JAKARTA–Di tengah hangatnya bursa persaingan menuju kursi Tribrata-1, nama Komjen Pol. Asep Edi Suheri hadir sebagai antitesis dari kemapanan birokrasi Polri. Jenderal bintang tiga ini melesat bukan sekadar sebagai dark horse atau kuda hitam, melainkan sebagai figur game changer yang sukses mengubah peta kekuatan suksesi kepemimpinan Korps Bhayangkara.
Sebelumnya, radar publik santer menyoroti figur-figur senior lainnya:
Komjen Pol. Karyoto: Kabaharkam Polri yang juga eks Kapolda Metro Jaya dan Deputi Penindakan KPK.
Komjen Pol. Wahyu Widada: Perwira tinggi dengan rekam jejak dan pengalaman tugas yang sangat komprehensif di internal kepolisian.
Komjen Pol. Suyudi Ario Seto: Kepala BNN yang namanya turut diperhitungkan dalam bursa calon pemimpin Polri.
Lampu Hijau dari Istana
Pencapaian Komjen Asep Edi Suheri menembus pangkat Komisaris Jenderal bukan sekadar lompatan karier biasa. Ini adalah bentuk validasi nyata atas kepemimpinannya yang diakui negara.
Saat ini, ia memegang posisi yang sangat langka dan prestisius: satu-satunya Kapolda aktif di Indonesia yang menyandang pangkat bintang tiga.
Posisi istimewa ini dibaca berbagai pengamat di Senayan sebagai sinyal kuat tingginya kepercayaan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terhadap kapasitas kepemimpinan Asep.
Chemistry Solid di Puncak Hierarki
Kokohnya posisi Asep di lingkaran ring satu tidak lepas dari soliditas kepemimpinannya. Ia dikenal memiliki chemistry yang sangat kuat dan terbangun rapi dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Kepercayaan struktural yang tinggi serta keselarasan mutlak dalam mengeksekusi instruksi strategis nasional menjadi fondasi kuat hubungan keduanya. Kolaborasi kedua jenderal ini di pucuk pimpinan Polri terbukti sukses menghadirkan sinergi modern yang tangguh untuk mengamankan stabilitas negara.
Sentuhan Humanis Sang “Penjaga Jakarta”
Rekam jejak Komjen Asep matang secara teknis maupun taktis. Pengalamannya memimpin sektor-sektor strategis—mulai dari mantan Dirtipidsiber Bareskrim hingga Wakabareskrim—menjadikannya figur paling relevan membawa Polri beradaptasi dengan tantangan era digital.
Di bawah komandonya, Asep sukses meredam berbagai potensi kerawanan di ibu kota lewat kolaborasi tanpa sekat bersama TNI dan pasukan elite. Namun, di balik ketegasannya sebagai jenderal lapangan, terselip orientasi kerakyatan yang sangat kuat.
“Jangan pernah sakiti hati rakyat.” — Prinsip sakral yang ditanamkan Sang “Penjaga Jakarta” kepada seluruh anak buahnya.
Berkat prinsip tersebut, wajah Polri yang kerap dinilai kaku berhasil disulap menjadi jauh lebih humanis, hangat, dan dekat dengan masyarakat.
Pada akhirnya, gerbang suksesi Kapolri tetap berada di tangan hak prerogatif Presiden. Namun, jauh sebelum nama-nama kandidat resmi diserahkan ke Komisi III DPR RI untuk fit and proper test, Komjen Asep Edi Suheri telah membuktikan kapasitas paripurnanya sebagai pemimpin masa depan yang berdiri di garis terdepan.**
Tra Ginting
Anggota Paguyuban Jurnalis Mitra Polri (JMP)









