Damai di Meja Makan, Pencabutan Laporan Terhadap Hotman Paris Memicu Gelombang Kritik

Friday, 31 July 2026 - 11:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan wartawan dari berbagai organisasi menggelar aksi unjuk rasa di Mapolda Jawa Barat. pada  Jumat, 24 Juli 2026, Mereka mendesak Polri mengusut tuntas laporan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea yang dianggap telah melontarkan pernyataan merendahkan profesi jurnalis. Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, para jurnalis menilai proses hukum tetap perlu berjalan sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip kesetaraan di hadapan hukum.(Foto Kompasiana)

Puluhan wartawan dari berbagai organisasi menggelar aksi unjuk rasa di Mapolda Jawa Barat. pada Jumat, 24 Juli 2026, Mereka mendesak Polri mengusut tuntas laporan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea yang dianggap telah melontarkan pernyataan merendahkan profesi jurnalis. Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, para jurnalis menilai proses hukum tetap perlu berjalan sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip kesetaraan di hadapan hukum.(Foto Kompasiana)

JAKARTA – JAKARTA–Rekonsiliasi kilat antara Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dan pengacara Hotman Paris Hutapea di atas meja makan dinilai sukses merendahkan martabat wartawan jilid dua.

Ketua Paguyuban Jurnalis Mitra Polri (JMP), Ikhwan Andi Aziz, menilai luka yang ditimbulkan oleh kompromi instan ini jauh lebih perih ketimbang makian awal “Lu Punya Otak Enggak Sih”.

Menurutnya, para elite yang berdamai itu tertawa renyah di depan hidangan, sementara ribuan jurnalis di lapangan harus menanggung malu.

“Wartawan di lapangan termasuk di daerah solid menjaga marwah, tapi elite murah banget berkompromi pakai dalih ‘Demi Persatuan Indonesia,” sindir Ikhwan dalam keterangannya, Kamis (30/7).

Secara hukum, JMP mencium adanya kejanggalan. Kasus tersebut baru berjalan satu minggu dan saksi baru mulai diperiksa, namun laporan polisi justru langsung dicabut.

“Ini jadi preseden buruk. Besok-besok, silakan lecehkan wartawan, asal ujungnya selesai lewat diplomasi piring makan,” tandas Ikhwan.

Sorotan Wartawan Senior

Skandal “damai meja makan” ini turut membuat sesepuh pers gerah hingga turun gunung. Wartawan senior, Dimas Supryanto, langsung menelanjangi narasi “Persatuan Nasional” yang dipakai pihak elite untuk cuci tangan.

“Demi persatuan nasional? Puihh! Memangnya memproses hukum Hotman Paris bisa bikin negara kudeta? Mantan Jampidsus yang simpan 72 kg emas saja bisa ditahan, kok pengacara ini sakti betul?” cecar Dimas melalui akun Facebook pribadinya.

Mewakili amarah akar rumput, mantan wartawan Pos Kota ini juga melempar pertanyaan pamungkas terkait transparansi di balik perdamaian tersebut.

“Berapa kilo emas yang didapat PWI dari perdamaian secepat kilat ini? Berapa USD, SGD, atau jaminan ‘UGD’ tambahannya?” tegasnya.

Dimas menambahkan, kini publik dapat melihat bahwa solidaritas profesi yang kemarin sempat membara ternyata bisa langsung padam hanya dengan sekali traktir makan siang. Pilar keempat demokrasi ini dinilai resmi sekarat dan digadaikan di atas meja makan tanpa kejelasan substantif.

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir berdalih bahwa pencabutan laporan murni dilakukan karena Hotman Paris sudah meminta maaf. Sebuah keputusan yang diklaim demi “persaudaraan dan persatuan bangsa”—narasi klasik saat harga diri profesi telanjur dinilai murah.**

Facebook Comments Box

Penulis : Tim Redaksi

Berita Terkait

Maling ‘Dalam Selimut”, Oknum Sekuriti Gondol 1.700 Ompreng MBG di Tangerang Selatan
Pemerintah Bereskan Tumpang Tindih Aturan Ekspor Mineral dan LTJ demi Kepastian Usaha
Satlantas Polres Metro Bekasi Gelar Polantas Peduli Kasih dan Edukasi Kamseltibcarlantas
Dasco Turun Tangan, Drama ‘Lu Punya Otak Enggak’ Hotman Paris vs Wartawan Berujung Damai
Pimpin Sertijab 22 Pejabat Utama Polda Metro, Komjen Asep Edi: Jaga Hati Rakyat!
Kasus Firli Bahuri: Hidup Segan Mati Tak Mau
Jenderal Listyo Sigit Berseloroh Bakal Memimpin Demo Buruh jika Penerusnya Tak Pro-Pekerja, Sinyal Pergantian Kapolri?
Kritik Pidato Prabowo, Feri Amsari: Kalau Pakai Data Sejarah, Adik dan Ayahnya Bisa Dituding “Londo Ireng”

Berita Terkait

Friday, 31 July 2026 - 12:38 WIB

Maling ‘Dalam Selimut”, Oknum Sekuriti Gondol 1.700 Ompreng MBG di Tangerang Selatan

Friday, 31 July 2026 - 11:24 WIB

Damai di Meja Makan, Pencabutan Laporan Terhadap Hotman Paris Memicu Gelombang Kritik

Wednesday, 29 July 2026 - 14:40 WIB

Pemerintah Bereskan Tumpang Tindih Aturan Ekspor Mineral dan LTJ demi Kepastian Usaha

Wednesday, 29 July 2026 - 13:31 WIB

Satlantas Polres Metro Bekasi Gelar Polantas Peduli Kasih dan Edukasi Kamseltibcarlantas

Tuesday, 28 July 2026 - 12:35 WIB

Pimpin Sertijab 22 Pejabat Utama Polda Metro, Komjen Asep Edi: Jaga Hati Rakyat!

Monday, 27 July 2026 - 02:08 WIB

Kasus Firli Bahuri: Hidup Segan Mati Tak Mau

Sunday, 26 July 2026 - 18:20 WIB

Jenderal Listyo Sigit Berseloroh Bakal Memimpin Demo Buruh jika Penerusnya Tak Pro-Pekerja, Sinyal Pergantian Kapolri?

Saturday, 25 July 2026 - 17:33 WIB

Kritik Pidato Prabowo, Feri Amsari: Kalau Pakai Data Sejarah, Adik dan Ayahnya Bisa Dituding “Londo Ireng”

Berita Terbaru