Ekshumasi Jenazah Sutrimo, Apakah Akan Menguak Tabir Penyebab Kematian?

Wednesday, 12 August 2026 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto (ist)

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto (ist)

BANYUMAS — Ekshumasi jenazah Sutrimo di Pemakaman Bantaragung, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026), menjadi bagian penting penyidikan untuk mengungkap penyebab kematian karumga mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.

Sutrimo meninggal pada 23 Juli 2026 setelah ditemukan tidak sadarkan diri di depan sebuah klinik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Semula kematian tersebut dianggap keluarga sebagai musibah. Namun, munculnya informasi simpang siur mendorong keluarga melaporkan perkara itu ke Polresta Banyumas pada 8 Agustus. Kasus kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan ekshumasi dilakukan bersama Polda Jawa Tengah dan Polresta Banyumas. Setelah makam dibongkar, tim forensik melakukan pemeriksaan luar untuk memastikan identitas, dilanjutkan autopsi guna mencari temuan medis terkait penyebab kematian.

Pemeriksaan melibatkan dokter forensik dari PDFMI Jaya, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta ahli laboratorium forensik, DNA, histopatologi anatomi, dan psikologi dari Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

Ketua PDFMI Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti mengatakan seluruh temuan akan dianalisis untuk menentukan cara dan sebab kematian, termasuk memastikan apakah kematian Sutrimo bersifat natural atau tidak natural. Hasilnya tidak akan disimpulkan secara langsung, melainkan menunggu seluruh pemeriksaan selesai.

Tidak Otomatis Mengungkap Misteri

Ekshumasi dapat memberikan petunjuk penting, tetapi tidak serta-merta menjawab seluruh misteri. Jenazah telah dimakamkan lebih dari 10 hari sehingga proses pembusukan berpotensi mengubah atau menghilangkan sebagian tanda biologis.

Meski demikian, kondisi tanah makam yang relatif kering dan baik diharapkan membantu tim memperoleh temuan forensik. Pemeriksaan akan mencari kemungkinan tanda penyakit, cedera akibat kekerasan, maupun indikasi zat tertentu.

Setiap temuan medis tetap harus dikaitkan dengan bukti lain. Kelainan jantung, misalnya, belum otomatis membuktikan serangan jantung. Begitu pula luka atau temuan zat tertentu harus ditelusuri mekanisme dan kaitannya dengan kematian.

Karena itu, hasil autopsi dan laboratorium akan dicocokkan dengan kronologi, rekam medis, keterangan saksi, lokasi korban ditemukan, hingga bukti elektronik seperti CCTV.

Dua Pertanyaan Besar

Setidaknya ada dua pertanyaan yang harus dijawab penyidik: apa penyebab medis kematian Sutrimo dan apakah ada faktor atau tindakan pihak lain yang menyebabkan kematiannya.

Ekshumasi terutama diharapkan menjawab aspek medis. Sementara kemungkinan adanya tindak pidana membutuhkan penyidikan lebih luas.

Polisi sebelumnya telah memeriksa sejumlah hal, termasuk rekam medis, lokasi korban ditemukan, keterangan keluarga, petugas rumah sakit, pengemudi ambulans, serta rekaman CCTV.

Jika hasil pemeriksaan mendukung kematian natural dan konsisten dengan kronologi serta rekam medis, penyebab kematian akan semakin terang. Sebaliknya, temuan yang mengarah pada kematian tidak natural dapat menjadi dasar penyidik memperdalam dugaan tindak pidana.

Kemungkinan lain tetap terbuka: pemeriksaan tidak cukup untuk menentukan penyebab kematian secara pasti akibat perubahan pada jenazah.

Keterkaitan Sutrimo sebagai karumga mantan Jampidsus Febrie Adriansyah juga tidak otomatis membuktikan adanya hubungan antara kematiannya dengan pekerjaan atau perkara yang pernah ditangani Febrie.

Kini, hasil ekshumasi menjadi salah satu kunci penyidikan. Apakah kunci tersebut mampu membuka seluruh tabir kematian Sutrimo atau hanya memberikan sebagian jawaban, masih menunggu hasil pemeriksaan forensik dan keseluruhan proses penyidikan Polda Metro Jaya.**

Facebook Comments Box

Penulis : tra ginting

Sumber Berita : humas pmj

Berita Terkait

Dugaan Penistaan Agama di The Sounds Project Berujung Laporan Polisi, Lima Pihak Diadukan
Merawat Persatuan di Bawah Tugu Monas: Riuh Rendah Apel Kebangsaan dan Senyum Sehat Warga
9 Pegiat Media Sosial Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Hoaks Demo Agustus
Apel Kebangsaan di Monas, Kapolda Metro Jaya: Menjaga Jakarta Berarti Menjaga Indonesia
Alarm dari Makassar: Saatnya Kader Gerindra Menjadi Benteng Terdepan di Ruang Digital
Video Demo Lama Diviralkan Lagi, Polri Turun Tangan Usut Penyebarnya
JMP Puji Respons “Adem” Kapolri Hadapi Isu Surpres: Saya Prajurit Siap Jalankan Perintah!
Penanganan Kasus Eks Jampidsus Mengkhawatirkan, SETARA Institute Desak Presiden Alihkan Perkara ke KPK

Berita Terkait

Wednesday, 12 August 2026 - 17:04 WIB

Dugaan Penistaan Agama di The Sounds Project Berujung Laporan Polisi, Lima Pihak Diadukan

Wednesday, 12 August 2026 - 16:53 WIB

Ekshumasi Jenazah Sutrimo, Apakah Akan Menguak Tabir Penyebab Kematian?

Saturday, 8 August 2026 - 19:40 WIB

Merawat Persatuan di Bawah Tugu Monas: Riuh Rendah Apel Kebangsaan dan Senyum Sehat Warga

Saturday, 8 August 2026 - 15:51 WIB

9 Pegiat Media Sosial Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Hoaks Demo Agustus

Thursday, 6 August 2026 - 11:58 WIB

Alarm dari Makassar: Saatnya Kader Gerindra Menjadi Benteng Terdepan di Ruang Digital

Thursday, 6 August 2026 - 01:16 WIB

Video Demo Lama Diviralkan Lagi, Polri Turun Tangan Usut Penyebarnya

Wednesday, 5 August 2026 - 20:50 WIB

JMP Puji Respons “Adem” Kapolri Hadapi Isu Surpres: Saya Prajurit Siap Jalankan Perintah!

Wednesday, 5 August 2026 - 16:25 WIB

Penanganan Kasus Eks Jampidsus Mengkhawatirkan, SETARA Institute Desak Presiden Alihkan Perkara ke KPK

Berita Terbaru