JAKARTA — Ketua PAKAR (Pemantau Kinerja Aparatur untuk Keadilan Rakyat), Ikhwan Andi Aziz, mengapresiasi gerak cepat Polda Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Kapolda Sumbar, Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, dalam mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Menurut Ikhwan, langkah konkret Polda Sumbar menunjukkan bahwa kepolisian tidak hanya menjalankan fungsi pemeliharaan keamanan dan ketertiban, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam mendukung program strategis pemerintah, khususnya dalam memperkuat produksi pangan dan mengoptimalkan potensi pertanian daerah.
“PAKAR melihat ada gerak nyata dari Polda Sumbar. Bukan sekadar berbicara mengenai ketahanan pangan, tetapi turun langsung ke lapangan dan menggerakkan jajaran. Ini patut diapresiasi dan harus terus dikawal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Ikhwan Andi Aziz, Jumat (21/8).
Salah satu langkah konkret Polda Sumbar yang mendapat sorotan adalah gerakan tanam bawang putih secara serentak di Kabupaten Solok yang dipimpin langsung Kapolda Sumbar pada Rabu (19/8).
Kegiatan tersebut memanfaatkan lahan sekitar **2,5 hektare** dengan dukungan sekitar **1,6 ton bibit bawang putih**. Dari penanaman tersebut, produksi diproyeksikan mencapai sekitar 12 ton.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa program ini mulai diarahkan pada kegiatan yang memiliki target produksi. Ada lahan yang disiapkan, ada bibit yang ditanam, dan ada target hasil panen. Pola seperti ini jauh lebih konkret daripada sekadar kegiatan simbolis,” kata Ikhwan.
Ia menilai pengembangan bawang putih juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat ketahanan pangan. Karena itu, menurutnya, gerakan tanam serentak harus diikuti dengan pengawalan hingga masa panen dan pemasaran.
“Setelah penanaman, tantangan berikutnya adalah memastikan tanaman terpelihara dengan baik sampai panen. Setelah itu, hasil panen juga harus memiliki kepastian pasar. PAKAR berharap Polda Sumbar terus melakukan pengawalan dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
Aktif di Tingkat Nagari
Selain gerakan tanam bawang putih, PAKAR juga menyoroti keterlibatan jajaran kepolisian di tingkat kewilayahan dalam mendorong masyarakat memanfaatkan lahan produktif.
Di Kabupaten Solok, misalnya, jajaran Bhabinkamtibmas turut melakukan sosialisasi ketahanan pangan serta mendorong pemanfaatan lahan kosong dan lahan produktif untuk kegiatan pertanian.
“Ketahanan pangan tidak bisa hanya dibangun melalui satu proyek besar. Harus ada gerakan sampai ke tingkat nagari dan masyarakat. Ketika Bhabinkamtibmas ikut mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif, maka peran kepolisian menjadi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Ikhwan.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan **lahan tidur** agar memiliki nilai ekonomi. Namun, ia menekankan pemanfaatannya tetap harus memperhatikan status kepemilikan dan aspek hukum agar tidak menimbulkan persoalan baru.
“Lahan tidur jangan dibiarkan menjadi aset yang tidak menghasilkan. Kalau ada lahan yang secara hukum dan teknis dapat dimanfaatkan, tentu harus dioptimalkan untuk kegiatan produktif. Tetapi semuanya harus dilakukan secara tertib dan melibatkan pemilik maupun masyarakat setempat,” katanya.
Kawal dari Hulu hingga Hilir
PAKAR juga mengapresiasi pola pendampingan yang melibatkan jajaran kepolisian hingga tingkat bawah. Menurut Ikhwan, keberhasilan program ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menanam.
Kepolisian, kata dia, perlu terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, dinas terkait, kelompok tani, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan kebutuhan bibit, pupuk, perawatan, distribusi hingga pemasaran dapat berjalan dengan baik.
“Petani membutuhkan kepastian. Jangan sampai bibit sudah ditanam tetapi kemudian terkendala pupuk. Jangan sampai panen berhasil tetapi petani kesulitan menjual hasilnya. Karena itu, rantai produksi harus dikawal secara menyeluruh,” ujarnya.
Ikhwan menilai kinerja Kapolda Sumbar dalam program ketahanan pangan pada akhirnya harus diukur dari **hasil nyata**, bukan sekadar banyaknya kegiatan yang dilaksanakan.
“Gerak cepat itu penting, tetapi keberlanjutan jauh lebih penting. PAKAR akan melihat apakah lahan yang sudah ditanam benar-benar menghasilkan, apakah produktivitas meningkat, dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi. Itu ukuran keberhasilan yang sebenarnya,” tegasnya.
Ia berharap Kapolda Sumbar mempertahankan pola kerja yang aktif turun ke lapangan dan memastikan seluruh jajaran bergerak secara terukur.
“Kalau program ini dikawal sampai panen dan terus dikembangkan, dampaknya bukan hanya terhadap ketahanan pangan, tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat. Kami mendorong Kapolda Sumbar mempertahankan momentum ini dan menjadikannya sebagai program berkelanjutan,” pungkas Ikhwan.
Menurut Ikhwan, Sumatera Barat memiliki potensi pertanian yang besar sehingga sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, kelompok tani, dan masyarakat harus terus diperkuat.
“Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan seremoni. Masyarakat membutuhkan hasil. Kalau lahan produktif bertambah, produksi meningkat, petani mendapatkan pasar, dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi, di situlah program swasembada pangan benar-benar memberikan arti,” tutupnya.
Penulis : tra ginting
Sumber Berita : PAKAR









