JAKARTA–Kerusuhan 27 Agustus 2026 meninggalkan persoalan yang tidak ringan bagi Jakarta. Bukan hanya soal kericuhan dan penanganan massa, tetapi juga adanya warga yang kehilangan nyawa di tengah situasi tersebut.
Dalam situasi seperti itu, publik tentu membutuhkan penjelasan. Bukan sekadar siapa yang diperiksa, berapa orang yang diamankan, atau bagaimana perkembangan penyidikan. Publik juga menunggu suara pemimpin tertinggi kepolisian di Jakarta: Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri.
Di sinilah pertanyaan layak diajukan. Seberapa jauh seorang Kapolda perlu hadir secara langsung ketika persoalan keamanan yang terjadi di wilayahnya menimbulkan korban jiwa dan menyisakan pertanyaan publik?
Kapolda tentu memiliki jajaran yang dapat berbicara atas nama institusi. Kabid Humas memiliki fungsi menyampaikan informasi kepada publik. Dirreskrimum menjelaskan perkembangan penyidikan. Pejabat lainnya juga dapat memberikan keterangan sesuai bidang masing-masing.
Namun, ada persoalan yang tidak semata-mata bersifat teknis.
Ketika seorang warga meninggal dalam sebuah rangkaian kerusuhan, persoalan tersebut telah masuk ke wilayah kepemimpinan dan pertanggungjawaban moral institusi.
Kabid Humas dapat menjelaskan apa yang dilakukan Polda. Dirreskrimum dapat menjelaskan apa yang sedang disidik. Tetapi publik tetap membutuhkan Kapolda untuk menjelaskan bagaimana pimpinan kepolisian melihat tragedi tersebut, apa evaluasinya, dan apa langkah yang akan dilakukan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Karena itu, perhatian publik menjadi wajar ketika Kapolda terlihat menjenguk seorang pengemudi ojol dan dua anggota Polri yang mengalami luka, sementara suara langsung Kapolda mengenai warga yang meninggal dalam kerusuhan tersebut tidak terdengar secara menonjol.
Tentu saja, kunjungan kepada korban luka adalah tindakan yang baik dan patut diapresiasi. Tidak ada yang salah dengan pimpinan memberikan perhatian kepada anggota maupun warga yang menjadi korban.
Tetapi justru di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang lebih besar: apakah empati kepemimpinan juga terlihat sama kuatnya kepada warga sipil yang kehilangan nyawa?
Pertanyaan ini bukan berarti menuduh Kapolda tidak peduli. Kita tidak boleh menghakimi sesorang hanya berdasarkan apakah ia datang atau tidak datang melayat. Yang patut dikritisi adalah pesan publik yang muncul dari ketidakhadiran suara tersebut.
Dalam komunikasi krisis, diamnya pemimpin dapat menciptakan ruang yang kemudian diisi oleh berbagai tafsir. Apalagi ketika kasusnya menyangkut korban jiwa, keamanan ibu kota, dan kinerja aparat.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi. Mereka membutuhkan kepastian bahwa pemimpinnya hadir menghadapi persoalan.
Kapolda adalah orang nomor satu di jajaran Polda Metro Jaya. Karena itu, ketika Jakarta menghadapi persoalan keamanan yang besar, kehadiran Kapolda tidak harus berarti mengambil alih seluruh fungsi juru bicara.
Justru sebaliknya. Kapolda tidak perlu menjelaskan semuanya. Tetapi untuk persoalan yang menyangkut arah kebijakan, evaluasi pengamanan, korban jiwa, dan kepercayaan publik, suara Kapolda memiliki bobot yang berbeda.
Karena itu, pertanyaan terhadap Kapolda Metro Jaya sesungguhnya sederhana. Ketika Jakarta terluka, di mana suara pemimpinnya?
Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan sebelum proses hukum selesai. Bukan pula un mempertentangkan korban warga dengan korban anggota polisi. Semua korban patut mendapat perhatian.
Justru karena itulah, publik berharap pimpinan tertinggi Polda Metro Jaya tidak hanya hadir ketika anggotanya terluka, tetapi juga tampil ketika warga yang berada dalam wilayah tanggung jawab pengamanannya kehilangan nyawa.
Sebab kepemimpinan bukan hanya soal memberikan komando ketika keadaan genting. Kepemimpinan juga berarti berani tampil ketika keadaan telah reda, berdiri di depan publik, menjelaskan apa yang terjadi, mengakui apa yang perlu dievaluasi, dan memastikan masyarakat bahwa keselamatan mereka adalah prioritas utama.
Jakarta tidak hanya membutuhkan polisi yang bekerja. Jakarta juga membutuhkan pemimpin kepolisian yang terlihat hadir ketika warganya sedang mempertanyakan rasa aman. (ginting)
Oleh:
Ikhwan Andi Aziz
Pemerhati Sosial









