PEKANBARU–Sebanyak 46,93 kilogram sabu senilai Rp84,49 miliar, yang diduga dibawa seorang oknum anggota TNI aktif, terungkap di Pekanbaru. Kasus ini kembali menyoroti betapa rentannya Riau menjadi jalur perlintasan narkotika jaringan internasional.
Di tengah ancaman itu, Kombes Pol I Putu Yudha Prawira, Direktur Reserse Narkoba Polda Riau, menghadapi pekerjaan yang tak ringan. Bukan hanya membongkar peredaran di darat, tetapi juga mengawasi jalur masuk narkotika dari kawasan Selat Malaka.
Penangkapan di simpang lampu merah Jalan Yos Sudarso, Rumbai, Sabtu (10/10/2026), menjadi salah satu gambaran nyata ancaman tersebut. Letak geografis Riau yang berhadapan dengan Selat Malaka, garis pantai yang panjang, serta keberadaan pelabuhan dan dermaga tidak resmi membuka banyak celah bagi penyelundup. Jalur laut dari Malaysia menuju pesisir Riau, kemudian diteruskan ke Pekanbaru dan daerah lain, menjadi salah satu titik yang perlu terus diwaspadai.
Tantangannya tidak berhenti di pesisir. Aparat juga harus menelusuri jalur distribusi darat, mengurai hubungan antarpelaku, dan membongkar jaringan yang bekerja lintas daerah. Karena itu, menangkap kurir saja tidak cukup. Sumber pasokan, pengendali, hingga jalur distribusinya harus ikut dibongkar.
Putu Yudha bukan orang baru dalam penanganan kejahatan di wilayah pesisir. Lulusan Akademi Kepolisian 2000 ini pernah menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kapolres Tanjung Balai, dan Kapolres Asahan. Ia kemudian dipercaya menjadi Wadirreskrimsus Polda Sumatera Selatan dan Dirreskrimsus Polda Kepulauan Riau sebelum memimpin Ditresnarkoba Polda Riau.
Pengalaman di sejumlah wilayah pesisir dan kawasan yang berhadapan dengan jalur laut internasional menjadi bekal dalam membaca pola kejahatan lintas wilayah. Namun, tantangan di Riau menuntut lebih dari sekadar pengalaman: pemetaan jalur rawan, pengawasan pesisir, pengembangan informasi, serta koordinasi antarlembaga harus berjalan beriringan.
Kasus yang melibatkan oknum anggota TNI aktif juga memperlihatkan pentingnya penegakan hukum tanpa pandang bulu, disertai koordinasi sesuai kewenangan masing-masing institusi.
Bagi Putu Yudha dan jajarannya, pekerjaan sesungguhnya bukan sekadar menyita puluhan kilogram sabu. Ujian terbesarnya adalah mempersempit ruang gerak jaringan penyelundup, menjaga jalur-jalur rawan di pesisir Riau, dan memastikan Selat Malaka tidak terus menjadi pintu masuk narkotika ke Indonesia.**
Penulis : tra ginting









