Ketika Rony Samtana Tarigan Mengubah Ukuran Prestasi Polisi

Wednesday, 7 October 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upacara Kenaikan Pangkat Rony Samtana Tarigan menjadi Irjen Polri di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Sabtu malam,3 Oktober 2026. (Foto: Istimewa).

Upacara Kenaikan Pangkat Rony Samtana Tarigan menjadi Irjen Polri di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Sabtu malam,3 Oktober 2026. (Foto: Istimewa).

IRJEN POL POl RONY SAMTANA TARIGAN, kelahiran Deli Serdang, 24 Agustus 1974, baru dipercaya memimpin Polda Sumatera Selatan. Lulusan SMA Taruna Nusantara dan Akpol 1996 itu sebelumnya menjabat Wakapolda Sumsel.

Kinerjanya sebagai Musi-1 ( sandi untuk Kapolda Sumsel) tentu masih harus dibuktikan. Apakah ia mampu menerjemahkan prioritas Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto ke dalam kerja nyata di Sumatera Selatan, tentu waktu yang akan menjawab.

Namun ada satu pernyataannya yang patut dicatat. Pada 1 Oktober 2026, sehari sebelum telegram mutasi Kapolri menempatkannya sebagai Kapolda, Rony mengatakan:

“Kita tidak bangga dapat menangkap pelaku kejahatan, namun kita lebih bangga jika kejahatan itu bisa kita cegah dan menghasilkan rasa aman.”

Kalimat itu menarik karena datang dari perwira yang cukup lama berada di dunia penindakan. Rony pernah sekitar delapan tahun menjadi penyidik KPK. Setelah kembali ke Polri, ia meniti jalur reserse hingga menduduki sejumlah jabatan strategis.

Ia tahu bagaimana sebuah kejahatan diburu dan perkara diungkap. Tetapi kini ia menawarkan ukuran yang berbeda: keberhasilan polisi tidak berhenti pada penangkapan.

Selama ini, pengungkapan perkara memang lebih mudah dijadikan ukuran prestasi. Ambil contoh dalam kasus narkoba. Barang bukti dijejer sampai menggunung. Tersangka dipamerkan. Wartawan diundang. Kamera bekerja. Pimpinan memberikan keterangan tentang keberhasilan anak buah, lengkap dengan cerita bahwa pengungkapan bermula dari laporan masyarakat. Tentu, prestasi pun hadir dalam bentuk yang paling mudah difoto.

Tidak ada yang keliru dengan publikasi. Masyarakat memang berhak mengetahui kerja kepolisian. Tetapi ketika ukuran keberhasilan terlalu bertumpu pada apa yang bisa dipamerkan, polisi berisiko terjebak dalam logika etalase, semakin banyak tangkapan, semakin besar terlihat prestasinya.

Padahal narkoba yang paling berhasil ditangani bukan selalu yang paling banyak dipajang barang buktinya. Bisa jadi justru narkoba yang tidak pernah sampai ke tangan pengguna. Di sinilah pencegahan menjadi jauh lebih sulit sekaligus lebih bermakna.

Pencegahan tidak punya tersangka untuk dipamerkan. Tidak ada barang bukti yang bisa ditimbang. Tidak ada konferensi pers yang meriah. Keberhasilannya justru ditandai oleh sesuatu yang tidak terjadi, peredaran yang terputus, pasar yang menyusut, bandar yang kehilangan ruang, dan anak-anak muda yang tidak pernah bersentuhan dengan narkoba.

Rony tampaknya ingin mengubah pertanyaan itu. Dari berapa banyak pelaku yang ditangkap menjadi berapa banyak kejahatan yang berhasil dicegah. Dari berapa ton barang bukti yang bisa dipajang menjadi seberapa aman masyarakat menjalani hidup.

Ia bahkan menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai objek perlindungan, melainkan “benteng aktif di lingkungannya masing-masing.”

Kini saatnya Rony membuktikan ucapannya. Semoga pemikiran itu tidak berhenti di podium, tetapi benar-benar turun menjadi kebijakan dan kerja nyata. Sebab ukuran keberhasilan polisi sesungguhnya bukan seberapa tinggi barang bukti ditumpuk untuk dipamerkan, melainkan seberapa banyak kejahatan yang berhasil dicegah dan seberapa banyak anak muda yang berhasil diselamatkan.

Jika Rony mampu menerjemahkan pemikirannya itu dalam kinerja, mungkin prestasi polisi tak lagi harus berisik untuk bisa dirasakan. Sebab keamanan yang paling berhasil adalah keamanan yang tidak perlu dipamerkan.**

Facebook Comments Box

Penulis : Tra Ginting

Sumber Berita : Berbagai Sumber

Berita Terkait

Dari Cover Boy ke Kursi Kapolri: Babak Baru Suyudi Ario Seto
Saat Jakarta Riuh, Budi Hermanto Tetap Berdiri di Depan
Menakar Asa Geng Akpol ’94 di Pucuk Pimpinan Korps Bhayangkara
Bursa Calon Kapolri 2026: Dua Jenderal “Geng 94” Santer Disebut Masuk Radar Istana
Komjen Asep Edi Suheri “Kuda Hitam” di Bursa Calon Kapolri
Sorot Dugaan Oknum TNI Halangi Penegakan Hukum, SETARA- Institute: Presiden Mesti Turun Tangan Tentara Bukan Tameng Koruptor
Gelar Doktor di Depan Nama Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryo Dipersoalkan
Petrus Salestinus Bongkar Kebohongan Jokowi Terkait Usul Insiatif Revisi UU KPK. Ngeri! Ada Hidden Agenda “Membunuh’ KPK

Berita Terkait

Tuesday, 22 September 2026 - 14:42 WIB

Polres Jakpus Sita 20,5 Kg Sabu Jaringan Timur Tengah di Parung, Kurir Diringkus

Tuesday, 22 September 2026 - 02:30 WIB

Razia Gabungan Lapas Pemuda Tangerang, 137 Pegawai dan WBP Jalani Tes Urine, Seluruhnya Negatif Narkotika

Monday, 14 September 2026 - 14:47 WIB

Tergoda Upah Puluhan Juta, Pria Asal Medan Terjerumus Jadi Kurir 5 Kg Sabu

Monday, 14 September 2026 - 07:51 WIB

Dari Mobil Dinas ke Jaringan Malaysia, Advokat Perempuan Diduga Jadi Mata Rantai Narkoba

Thursday, 10 September 2026 - 15:03 WIB

Sindikat Narkoba Bersenjata Api di Bekasi Jadi Sinyal Merah bagi Aparat

Thursday, 3 September 2026 - 15:34 WIB

Razia Malam di Tamansari Ungkap Peredaran Obat Keras, Polisi Kejar Dua Pemasok

Wednesday, 26 August 2026 - 10:16 WIB

Bareskrim Bongkar Jejak Permen Narkoba dari Inggris, Satu Nama Dipakai Empat Kali

Friday, 21 August 2026 - 14:01 WIB

PAKAR: Zero Tolerance Kapolda Sumbar Harus Jadi Gerakan Bersama Berantas Narkoba

Berita Terbaru

Upacara Kenaikan Pangkat Rony Samtana Tarigan menjadi Irjen Polri di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Sabtu malam,3 Oktober 2026. (Foto: Istimewa).

Profil

Ketika Rony Samtana Tarigan Mengubah Ukuran Prestasi Polisi

Wednesday, 7 Oct 2026 - 19:30 WIB