KUALA LUMPUR — Kasus penyelundupan narkotika skala besar yang melibatkan seorang kopilot berinisial MSO perlahan mulai menampakkan titik terang. Publik sempat dibuat bertanya-tanya: bagaimana bisa seorang awak kokpit lolos dari pengawasan ketat Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dengan membawa koper sarat muatan terlarang?
Teka-teki itu kini terjawab. Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) mendapati indikasi kuat bahwa aksi nekat MSO tidak dilakukan seorang diri. Ada keterlibatan “orang dalam” yang memuluskan langkahnya.
Jejak Gelap Sang Kopilot
Direktur Departemen Investigasi Kriminal Narkotika (NCID) Bukit Aman, Datuk Hussein Omar Khan, membeberkan kronologi awal pergerakan MSO. Berdasarkan penyelidikan, petualangan gelap MSO bermula dari sebuah apartemen di kawasan Ampang, Malaysia. Di sanalah pasokan ekstasi dalam jumlah fantastis—mencapai 70.114 butir dengan berat total 26 kilogram—didapatkan.
Modus operandi yang digunakan tergolong licik. Pada suatu pagi, MSO mendatangi KLIA untuk menitipkan bagasi berisi narkoba tersebut. Usai menitipkan koper maut itu, ia sempat meninggalkan kawasan bandara untuk terbang sejenak ke Kota Kinabalu.
Sekembalinya dari Kinabalu ke Kuala Lumpur, MSO mengambil kembali koper berisi ekstasi tersebut, lalu mantap melangkah naik ke pesawat dengan tujuan akhir Jakarta, Indonesia.
Namun, pelarian MSO harus kandas di ujung jalan. Aksi penyelundupan tersebut digagalkan oleh petugas Bea Cukai Republik Indonesia saat pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Membidik Oknum Petugas Bandara
Tertangkapnya MSO di Indonesia membuka kotak Pandora baru di Malaysia. PDRM langsung melakukan pengembangan internal untuk mengusut bagaimana koper berisi puluhan kilogram narkoba itu bisa lolos dari mesin pemindai dan prosedur keamanan bandara internasional.
Hasilnya mengejutkan. PDRM kini telah mengidentifikasi seorang oknum staf atau petugas yang bertugas di bagian pemeriksaan KLIA. Petugas internal inilah yang diduga kuat memberikan jalan mulus bagi MSO.
“Individu tersebut termasuk di antara staf yang terlibat dalam pemeriksaan di KLIA. Kami akan menggali untuk dimintai keterangan, dan jika terbukti kami akan melakukan penangkapan,” tegas Datuk Hussein Omar Khan, seperti dilansir Antara, Selasa (4/8)
Kehadiran oknum pengkhianat di balik layar keamanan bandara tentu menjadi tamparan keras bagi sistem pengawasan transportasi udara internasional.
Sinergi Lantas Negara
Untuk meruntuhkan jaringan sindikat narkotika internasional ini, PDRM tidak bekerja sendirian. Saat ini, pihak kepolisian Malaysia tengah berkoordinasi intensif dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
PDRM bahkan bersiap mengirimkan personelnya langsung ke Indonesia guna menggali keterangan lanjutan dari MSO yang kini mendekam di tahanan. Penyelidikan gabungan lintas negara ini diyakini akan mampu menyeret seluruh pihak yang terlibat—baik di darat, di udara, maupun di balik meja pemeriksaan bandara—ke muka hukum.**
Penulis : tra ginting









