JAKARTA–Di balik tabir gelap sindikat narkotika internasional, nama Fredy Pratama masih tercatat sebagai buron prioritas tertinggi dalam daftar Red Notice Interpol,
Diduga sang gembong bersembunyi di balik benteng alam hutan terpencil di perbatasan Thailand-Myanmar dengan perlindungan kartel lokal.
Meski kepalanya bersembunyi dalam gelap, tangan-tangan gurita sindikatnya terus bergerak liar di bumi nusantara. Namun, perlahan tapi pasti, lingkaran hitam itu mulai memperlihatkan celah.
Operasi Senyap di Bumi Lambung Mangkurat
Tim penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Selatan baru saja merobek salah satu lapis pertahanan jaringan sang buron kelas kakap.
Berdasarkan laporan intelejen di lapangan, operasi senyap digulirkan menyusul bisikan informasi masyarakat tentang adanya pergerakan kargo haram berskala besar menuju Banjarmasin.
Di bawah komando Direktur Reserse Narkoba Polda Kalsel, Kombes Pol Baktiar Joko Mujiono, Kasubdit 2 AKBP Juper Lumban Toruan memimpin langsung penyelidikan mendalam untuk mengendus target di sebuah hotel di Banjarmasin pada pertengahan Juli 2026 lalu.
Hasilnya, Dua tersangka yakni KA (Warga Surabaya) dan RN (Warga Bandar Lampung) diringkus tanpa perlawanan. Turut disita barang barang bukti 32 paket sabu-sabu dalam kemasan teh Cina yang disembunyikan dalam tas besar.
Benang Merah Jaringan Lintas Provinsi
Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan dalam keterangannya di Banjarbaru mengungkapkan fakta di balik interogasi intensif terhadap kedua kurir tersebut.
“Hasil interogasi, kedua tersangka masuk dalam jaringan Fredy Pratama yang terhubung dari Jakarta, Kalimantan Barat, hingga ke Banjarmasin.” ungkap Kapolda
Saat ini, Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Kalsel terus menarik ulur benang merah penyelidikan guna membongkar aktor-aktor intelektual lain yang bersembunyi di balik jaringan ini.
Keberhasilan demi keberhasilan ini turut mendapat apresiasi langsung dari Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, yang menilai langkah tegas Polda Kalsel sebagai wujud nyata komitmen Polri dalam melindungi masyarakat sekaligus mengawal Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Runtuhnya Satu Per Satu Orang Kepercayaan
Pergerakan aparat penegak hukum Indonesia tidak hanya menyasar para kurir di lapangan. Ruang gerak sang mastermind kini semakin dipersempit melalui penangkapan orang-orang terdekatnya.
Sebelumnya, gembong keuangan sindikat ini—Franz Antoni alias Frans Antoni—akhirnya berhasil diseret keluar dari persembunyiannya.
Buron sejak 12 November 2023, Frans hidup nomaden di Thailand, mulai dari kawasan elit Phattanakan hingga menetap hampir dua tahun di daerah Narasiri, Bangkok.
Diringkus di Malaysia pada Kamis (18/6) dan langsung dievakuasi ke Bareskrim Polri di bawah komando Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso melalui instrumen Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).**
Penulis : tra ginting
Sumber Berita : Antara









