Seret Kedaulatan Negara ke Jurang Imperialisme, Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Perjanjian Dagang RI-AS dan Keanggotaan BoP

Sunday, 1 March 2026 - 22:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penandatanganan kesepakatan dagang tarif resiprokal oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. (Dok. White House)

Penandatanganan kesepakatan dagang tarif resiprokal oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. (Dok. White House)

JAKARTA– Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari 75 lembaga dan 64 individu menandatangani petisi petisi terkait kesepakatan perjanjian dagang Indonesia dan Amerika Serikat, serta kesepakatan Indonesia dalam Piagam Board of Peace (BoP)

Mengusung tajuk “Melawan Imperialisme Baru”, mereka menilai kesepakatan dagang RI-Amerika Serikat (AS) serta keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) telah menyeret kedaulatan negara ke dalam jurang imperialisme.

Petisi yang dirilis di Jakarta, Minggu (1/3/2026), ini ditandatangani oleh deretan nama besar seperti Prof. Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, Todung Mulya Lubis, hingga lembaga-lembaga berpengaruh seperti YLBHI, KontraS, dan WALHI.

Para pemohon petisi menyoroti minimnya ruang partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan strategis tersebut. Pemerintah dianggap mengabaikan konstitusi dengan tidak melibatkan DPR maupun masyarakat secara langsung.

“Kami memandang Presiden Trump melakukan fait accompli terhadap Indonesia, dan pada sisi lain Presiden Prabowo mengabaikan pentingnya partisipasi masyarakat,” tulis petisi tersebut.
Secara tajam, masyarakat sipil menilai bahwa penandatanganan Piagam BoP di Davos dan perjanjian dagang dengan AS dilakukan tanpa konsultasi publik yang memadai.

Kondisi ini dinilai ironis mengingat Mahkamah Agung Amerika Serikat sendiri baru saja membatalkan kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald J. Trump karena dianggap inkonstitusional di negara asalnya.

Ketimpangan Dagang

Kritik paling tajam diarahkan pada substansi perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat yang dinilai sangat diskriminatif. Indonesia disebut wajib memenuhi 214 ketentuan, sementara Amerika Serikat hanya diwajibkan menjalankan 9 ketentuan.

Kedaulatan ekonomi Indonesia dianggap terjebak dalam “permainan” Donald Trump dengan sederet poin yang merugikan rakyat, antara lain:

1.Bea masuk barang dari AS sebesar 0%.
2.Pemberian data pribadi rakyat Indonesia kepada pihak asing.
3.Keistimewaan bebas sertifikasi halal bagi produk asal AS.
4.Eksploitasi sektor tambang dan larangan bergabung dengan blok ekonomi yang tidak sejalan dengan kepentingan AS.
Board of Peace

Terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) di Davos, petisi tersebut menegaskan bahwa BoP yang diketuai Donald Trump bukanlah mandat dari Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803.

BoP dinilai tidak memiliki peta jalan bagi kemerdekaan Palestina dan justru didominasi oleh kepentingan militer AS.

Bahkan, seiring serangan AS-Israel ke Iran, masyarakat sipil melabeli lembaga tersebut telah berubah menjadi “Board of War”.

“Board of Peace sudah berubah menjadi ‘Board of War’ karena BoP yang diketuai Donald Trump telah melakukan serangan militer ke Iran. Indonesia harus segera menarik diri,” tegas aliansi tersebut.

Lima Tuntutan Rakyat

Berdasarkan analisis tersebut, koalisi masyarakat sipil mengeluarkan lima tuntutan tegas:

1.Menolak kesepakatan perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat karena merugikan bangsa.
2.Mendesak DPR dan Pemerintah mengevaluasi seluruh perjanjian dagang yang bersifat timpang dan tidak adil.
3.Mendesak evaluasi kesepakatan Indonesia dalam Piagam BoP karena menyimpang dari mandat PBB.
4.Menolak pengiriman pasukan TNI ke Gaza tanpa mandat resmi Dewan Keamanan PBB.

Menyimpulkan bahwa langkah pemerintah saat ini telah memasukkan Indonesia ke jurang imperialisme dan menuntut koreksi total dari seluruh elemen bangsa.
Petisi ini didukung oleh 65 individu pakar dan akademisi dari berbagai kampus ternama seperti UGM, UI, dan Unair, serta diperkuat oleh 79 organisasi masyarakat sipil di seluruh Indonesia.**

Facebook Comments Box

Penulis : tra ginting

Sumber Berita : Aliansi Masyarakat Sipil

Berita Terkait

Polri Semakin Dipercaya, Begini Tanggapan Ketua Jurnalis Mitra Polri
Taruna Akmil Latih Siswa Sekolah Rakyat, SETARA Institute: Ini Berbahaya!
Bukan Perlakuan Khusus, Ini Alasan Razman Nasution Ditempatkan di Lantai 1 Lapas Cipinang
Hotman Paris Versus Rasman Arif Nasution, Kalapas Cipinang Dituding Diskriminasi Tempatkan Rasman di Sel Khusus
Kapolri Diminta Turun Tangan! Ada Dugaan Monopoli Tender Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan Korlantas
Perkara Judi Tembak Ikan di Deli Serdang Dibawa ke Mabes Polri, AKTA Sebut Ada Pembiaran
Laporan Kasus Dugaan Penipuan Menyeret Nama Ketua PN Kutai Barat Mangkrak 2 Tahun di Polda Metro Jaya
Mendadak Presiden Hadiri Rapat Paripurna DPR RI, Ada Apa ?

Berita Terkait

Friday, 3 July 2026 - 18:58 WIB

Jenderal Polisi Terseret Skandal MBG, Pukat UGM: Ini Alarm Keras Risiko TNI-Polri Aktif Masuk Jabatan Sipil

Thursday, 2 July 2026 - 16:51 WIB

Brigjen Pol LMI Jadi Tersangka MBG, Mabes Polri Dukung Proses Hukum di Kejagung

Thursday, 2 July 2026 - 16:38 WIB

Tiga Dekade Berkiprah di Kepolisian, Brigjen Pol LMI Kesandung Kasus Ompreng MBG

Wednesday, 1 July 2026 - 19:51 WIB

Momen HUT Bhayangkara ke-80, BEM UI Gotong Keranda ke Mabes Polri

Wednesday, 1 July 2026 - 19:32 WIB

Jenderal Sigit: Polri Terus Bertransformasi Menuju Institusi yang Humanis

Tuesday, 30 June 2026 - 23:42 WIB

Bareskrim Sita 18,1 Ton Sianida Ilegal dan Tetapkan Dua Tersangka

Tuesday, 30 June 2026 - 19:30 WIB

Cegah Kejahatan 3C, Polda Metro Jaya Minta Warga Jakarta Perkuat Siskamling

Tuesday, 30 June 2026 - 18:44 WIB

Kapolri Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 87 Perwira Tinggi

Berita Terbaru